PERSIAPKAN DIRI ANDA SEBELUM RAMADHAN TIBA

Mei 18, 2014
Pembaca yang budiman, sebelum memulai pembahasan judul di atas, agaknya menarik untuk kita simak perbincangan seorang ulama salafush shalih kepada saudaranya berikut ini:

Ulama tersebut bertanya, “Apakah engkau rela jika meninggal dalam kondisi seperti sekarang ini?” Saudaranya menjawab, “Tidak!”

“Lalu sudahkah kamu berniat taubat tanpa menunda-nundaya?” Tanyanya lagi, “Tidak.” Jawab saudaranya. “Adakah negeri untuk beramal selain dunia ini?” Tanya ulama tersebut. “Tidak” Jawab saudaranya. “Kalau begitu, berapakah jumlah nyawa yang engkau miliki?” Tanya ulama tersebut. “Nyawaku hanya satu.” Jawab saudaranya.

Apakah engkau merasa aman dari serangan kematian dalam kondisimu sekarang ini?” Tanya ulama tersebut, “Tidak.” Jawab saudaranya. Lalu ia berkata, “Wahai saudaraku, sadarlah! Persiapkanlah bekalmu, manfaatkan waktumu untuk kematian yang pasti menjemputmu.”

Pembaca yang budiman, saya membayangkan bila pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan kepada kita, jawaban kita tentu tidak lebih dari jawaban lelaki shalih di atas. Oleh sebab itu, ajukanlah pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk diri Anda secara pribadi. Jawablah dengan jujur, karena Anda berada dalam pengawasan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika Anda telah merenungi jawaban-jawaban jujur yang keluar dari hati Anda, menyadari tingginya tumpukan gunung dosa pada diri Anda dan adanya kesempatan penghapusan dosa pda bulan Ramadhan, pastilah Anda sangat berharap untuk dapat sampai di bulan Ramadhan dan mereguk berbagai manfaat di dalamnya.

Pembaca yang budiman, hendaknya Anda mengetahui bahwa salah satu nikmat yang banyak disyukuri orang lalai adalah nikmat ditundanya ajal, dan sampainya kita pada bulan Ramadhan. Mahasuci Allah yang ampunan-Nya mendahului siksa-Nya. Mahasuci Allah yang Mahamulia!

Bersyukurlah atas nikmat ini. Betapa Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa melihat kemaksiatan Anda sepanjang tahun, tetapi Dia menutupi aib Anda, memaafkan dan menunda kematian Anda sampai bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan.

Bila Anda menginginkan kebebasan dari neraka di bulan Ramadhan dan ingin diterima amalnya serta dihapus segala dosanya, maka harus ada bekal yang dipersiapkan.

Allah Ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ (٤٦)
“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu."”(QS. At-Taubah: 46)


Dengan demikian tersingkaplah ketidakjujuran orang-orang yang tidak mempersiapkan bekal untuk berangkat menyambut Ramadhan. Oleh sebab itu, mereka dihukum dengan berbagai bentuk kelemahan dan kehinaan.


Ibnul Qayyim rahimahulloh berkata, “Berhati-hatilah terhadap dua perkara (di antaranya); 
Pertama, Kewajiban telah datang, tetapi kalian tidak siap untuk menjalankannya, sehingga kalian mendapat hukuman berupa kelemahan untuk memenuhinya dan kehinaan dengan tidak mendapatkan pahalanya.”


Allah Ta’ala berfirman: “Maka jika Allah mengembalikan kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta idzin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, ‘Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang’.” (QS. At-Taubah: 83)

"Berhati-hatilah dari mengalami nasib seperti ini, yakni menjadi orang yang tidak layak menjalankan perintah Alloh Subhanahu wa Ta’la yang penuh berkah. Seringnya kita mengikuti hawa nafsu, akan menyebabkan kita tertimpa hukuman berupa tertutupnya hati dari hidayah."

Allah Ta’ala berfirman, “Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka (hingga seakan-akan mereka) seperti belum pernah beriman kepadanya (Al Qur’an) pada permulaannya….” (QS. Al-An’am: 110)

Demikianlah arti penting persiapan menyambut kedatangan Ramadhan, sehingga Anda tidak dihukum dengan ketidakberdayaan melakukan kebaikan dan kehinaan dengan tidak bisa menambah ketaatan.

Renungkan ayat-ayat tersebut baik-baik. Ketahuilah, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyukai keberangkatan mereka dan Dia lemahkan mereka. Karena tidak ada persiapan dari mereka dan niat merekapun tidak lurus lagi.

Namun bila seseorang bersiap untuk menunaikan suatu amal dan ia bangkit menghadap Allah dengan kerelaan hati, maka Allah terlalu mulia untuk menolak hamba yagn dating menghadap-Nya. Sehingga, dahulu generasi salafush shalih selalu mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Sebagian persiapan yang dilakukan oleh Rasululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam adalah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, beliau hampir saja berpuasa sepenuh bulan tersebut. Beliau tidak terlihat lebih banyak berpuasa di satu bulan melebihi puasanya di bulan Sya’ban, dan beliau tidak menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Rajab adalah bulan persemaian, Sya’ban adalah bulan pengairan. Adapun Ramadhan, ia adalah bulan memetik buah. Agar buah bisa dipetik di bulan Ramadhan, harus ada benih yang disemai, dan ia harus diairi sampai menghasilkan buah yang rimbun.

Pembaca yang budiman, selayaknya kita memulai persiapan untuk Ramadhan. Gelorakan rasa rindu kita untuk bertemu dengan Ramadhan sehiingga kita mendapatkan rahmat karenanya dan terbebaskan dari neraka.

** Sumber: Buku “Powerful Ramadhan” karya Muhammad Husain Ya’qub


Artikel Terkait

Previous
Next Post »